Rabu, 18 Maret 2015

Ketika Mahasantri Jatuh Cinta

jatuh cinta adalah hak setiap manusia. masing-masing hati bebas untuk mencintai siapa saja sekehendak hatinya. lain soal bagi mahasantri sepertiku yang setiap harinya disibukkan dengan menuntut ilmu dan menambah ibadahnya. tidak mudah untuk mencintai seorang perempuan. bukan karena aku tidak memiliki perasaan pada perempuan. masalah utamanya adalah karena statusku sebagai calon Faqih yang Alim dan Abid. tentu status itu akan tercoreng jika aku sembarangan mencintai seorang perempuan.
ada dilema besar bagi mahasantri sepertiku, aku ingin berpacaran tapi rasanya sangat tidak etis karena aku berkuliah di jurusan fiqh di UIN Jakarta. bukannya tidak boleh, teman-temanku saja banyak yang sudah memiliki pacar, hanya saja aku tidak mau memberikan citra buruk bagi Universitas dan Fakultasku di mata masyarakat. saat ini berkembang mindset yang salah mengenai UIN, masyarakat beranggapan setiap lulusan UIN jika tidak liberal pasti wahabi.
sebagai mahasiswa UIN yang bukan merupakan dua golongan itu, aku harus berhati-hati dan menjaga diri. jangan sampai masyarakat menillaiku sebagai liberal ataupun wahabi.
jika aku pacaran, aku bisa disebut liberal karena tidak menghargai aturan islam yang melarang pacaran. jika aku tidak pacaran, bisa-bisa aku disebut wahabi karena terlalu kolot dengan aturan islam yang menurut mereka kaku.sungguh menyebalkan dalam kondisi seperti ini.
ternyata tidak mudah untuk mendapatkan pengakuan dan kepercayaan dari masyarakat.
kembali lagi ke topik awal. aku juga bisa jatuh cinta tapi seorang Faqih tidak bisa sembarangan jatuh cinta. memang tidak ada aturan seperti itu tapi seakan ada rumus yang mengatakan bahwa seorang Faqih wajib memilih perempuan Shaliha. masalahnya adalah hati tidak bisa dipaksakan untuk jatuh cinta pada orang tertentu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar