Senin, 19 Januari 2015

SILABUS MENULIS FIKSI (Tutorial Praktis Menulis Fiksi untuk Pemula)

Menjadi penulis adalah pilihan luar biasa: cerdas, kreatif, interpretatif, dinamis, dan mampu mempengaruhi opini dan bahkan prinsip hidup pembacanya. Karena luar biasa, tentu tidak begitu banyak orang yang bisa begitu. Bedanya yang luar biasa dengan biasa tentu saja, salah satunya, adalah kesedikitannya itu. Ini sama pula dengan semua pilihan “menjadi” lain-lainnya yang sedikit itu tadi.
Setidaknya, ada 3 “kelebihan” menjadi penulis:
Pertama, mampu berpikir “tidak biasa”. Setiap penulis tentu dituntut untuk mengetahui lebih banyak, lebih luas, dan lebih dalam tentang ide dan tema yang ditulisnya. Otomatis ia membutuhkan perluasan pengetahuannya, melalui bacaan hingga diskusi/sharing.
Kedua,  mampu berpikir logis dan sistematis. Tulisan yang baik bukanlah tulisan yang njelimet, memusingkan kepala pembacanya. Tetapi tulisan yang terang, teratur, sistematis, dan logis, sekalipun disajikan dengan “lompatan-lompatan” apa pun. Prinsip membangun sistematika logis dan harmonis merupakan tuntutan sebuah tulisan yang baik. Karenanya, penulis yang baik niscaya akan mampu berpikir logis dan sistematis pula agar tulisannya juga menjadi logis dan sistematis.
Ketiga, mampu menciptakan interpretasi (penafsiran). Tentu saja subyektivitas penulis akan mempengaruhi tulisannya, dan itulah yang melahirkan tafsir-tafsir baru terhadap ide dan tema yang ditulisnya. Tafsir-tafsir baru itu tentunya akan diterima atau ditolak oleh pembacanya. Bagi pembaca yang sepaham dengan tafsir baru penulis, ia bahkan akan mengambilnya, menerapkannya sebagai prinsip hidupnya. Penulis, dengan demikian, bisa menjadi inspiratof, pengubah hidup pembacanya. Dan ini adalah ceruk yang luar biasa kan?
Jadi, kenapa masih ragu untuk menjadi penulis?
MENULIS FIKSI
Fiksi adalah dunia cerita, bentuknya puisi, cerpen, dan novel. Di sini, saya akan fokus hanya ke fiksi yang berupa cerpen dan novel. Dua bentuk fiksi ini memiliki hakikat yang sama. Jadi, tidak perlu dipetakan sendiri-sendiri.  Keduanya hanya beda dalam panjang-pendek ceritanya.
Sebelum masuk ke teknik menulis fiksi, perlu saya tegaskan bahwa hal pertama yang kudu dibenahi sebelum menulis fiksi ialah mindset. Ya, cara berpikirmu!
Jika kamu berpikir bahwa menulis fiksi adalah menuliskan imajinasi, itu tak sepenuhnya benar. Dekat ke salah.
Betul bahwa fiksi adalah cerita rekaan, karenanya ia membutuhkan imajinasi. Kian kuat imajinasi, kian kuatlah fiksinya. Tetapi kudu buru-buru kamu catat segera, bahwa imajinasi yang kuat pasti bersumber dari pengetahuan yang kuat. Itu satu. Yang kedua, imajinasi takkan banyak membantumu untuk bercerita banyak, akibatnya ceritamua hanya mutar-mutar kayak odong-odong kehabisan gizi, jika kamu tidak memiliki cakrawaka pengetahuan yang banyak dan luas. Eehh, sama ya intinya? LOL…
Coba bayangkan, bagaimana mungkin kamu bakal bisa menulis cerpen tentang Cleopatra jika kamu tidak tahu bahwa ia adalah penguasa Mesir bersama ayahnya Ptolemeus XII, memiliki saudara laki-laki, Ptolemeus XIII. Cleopatra berhasil mengatasi kudeta yang digebrakkan saudara laki-lakinya, dengan cara bersekutu dengan Julius Caesar, lalu Marx Anthony, tentu salah-satu kongsi itu adalah dengan pesonanya  dong. Buktinya, Cleopatra memiliki 1 orang anak dari Julius Caesar dan 3 anak dari Mark Antony.
Cukupkah kamu hanya mengandalkan imajinasimu yang bodol tentang Cleopatra, lalu menulis cerpen berdasarnya? Apa yang terjadi? Cerpenmu, novelmu, hanya akan menjadi puzzle mbulet imajinasi belaka, kan?
Ini mindset yang kudu dibenahi pertama kali, bahwa menulis fiksi tidak cukup hanya dengan mengandalkan imajinasi.
Baik. Sekarang mari masuk ke teknik.
Secara umum, fiksi sebagai sebuah cerita mensyaratkan hal-hal ini: alur cerita, setting/latar, penokohan, konflik, dan ending.
Kita bahasa satu-satu ya…
1. Alur Cerita
Alur cerita adalah jalan cerita. Apa pun bentuknya, sebuah fiksi harus memiliki jalan cerita. Apa pun!
Alur cerita ini bebas saja bentuknya, bisa alur maju (dari A-Z), alur mundur (flashback, dari Z-A), atau alur maju-mundur (jangan ngeres lo!). Semuanya bisa menjadi pilihan satu-satu atau bahkan gabungan sekaligus. Bebas! Intinya adalah kamu harus menciptakan alur cerita.
Untuk mengalirkan jalan cerita, tentu hal pertama yang kudu kamu miliki ialah “gambaran jalan cerita”. Membuat outline sebelum menulis (kira-kira ceritanya akan dialirkan gimana) merupakan salah satu cara efektif untuk membantumu mengingat rencana alur cerita. Jika penulis yang sudah berpengalaman, sering tidak butuh outline lagi, tapi cukup membayangkan sebelum menulis, atau bahkan mengalir begitu saja saat menulis.
Untuk pemula, buatlah outline dan disiplin dengannya. Tentu akan terjadi pergeseran-pergeseran alur dalam proses penulisannya, tetapi upayakan untuk mendisiplinkan diri dengan outline-mu. Khawatir aja sih, jika terus-menerus diturutin pergeseran-pergeseran itu, lantas cerpen atau novelmu nggak pernah jadi lantaran terus berubah dan berubah.
Selanjutnya, mengalirkan cerita bisa kamu bangun melalui narasi dan dialog. Kombinasikan keduanya secara proporsional ya. Terlalu banyak narasi, apalagi panjang-panjang kayak rel kereta Thomas, tentu akan membuat pembaca bosan. Terlalu dominant dialog, apalagi dialog-dialog yang nggak penting, tentu akan membuat pembaca meyakinimu bahwa kamu lebih rewel dan cerewet dari Omas.
Sebaiknya, narasi dan dialog diciptakan proporsional. Dan, catat ini, jangan pernah membuat narasi dan dialog yang tanpa peran untuk membangun cerita ya. Basa-basi yang basi-basa. Itu nggak menarik. Juga, jangan mengulangi inti dari narasi dalam bentuk dialog atau sebaliknya, karena pengulangan-pengulangan begini hanya akan mencederai karyamu.
Berikut contoh kombinasi narasi dan dialog yang berperan mengalirkan cerita:
Kyoto mulai beku. Lalu-lalang yang tadi tampak berisik kini melengang. Siklus alam, ya, selalu saja orang akan kembali pulang saat malam kian kencang menorehkan lelah. Tapi tidak buatku!
Aku masih saja duduk di taman yang gigil ini, setia menunggumu. Setia menanti janjimu, Omas.
Kulirik lagi arlojiku, sudah pukul 2 dini hari.
“Benar ya, pukul 10 nanti?” tanyaku penuh semangat.
Omas tersenyum manis, menjereng deretan giginya yang putih mempesona, menaklukkan hatiku.
“Ya, aku akan dating,” sahutnya.
“Aku kan menunggumu, lebih dulu dari jam yang kamu janjikan. Pasti itu!”
Ah, kembali, lagi-lagi, ia mengingkari janjinya. Pukul 10? Sekarang sudah pukul 2 dini hari, dan tak ada secuil kabar pun darinya. Selalu begini! Tetapi aku masih saja selalu setia memberikan dada lebarnya padanya untuk mengerti dan mengerti, meski tentu saja aku sama saja dengan lelaki lain yang tersuruk kecewa saat kekasihnya kembali ingkar janji.
Baca lagi deh itu. Ada aliran cerita di situ, kombinasi antara narasi dan dialog.
2. Setting/Latar Cerita
Setiap cerita selalu membutuhkan latar yang menjadi tempat ia hidup. Apa pun dan bagaimana pun latar itu diciptakan, entah itu nyata atau imajiner dan fantasi, latar itu harus ada.
Latar bukan hanya lukisan tentang tempat. Bukan! Latar juga mencakup suasana emosi yang terbangun dalam tokoh-tokoh itu, karenanya latar bisa dibangun dengan model narasi dan dialog pula.
Dan ingat pula ini: lukisan latar itu harus natural, jangan dipaksakan. Ini bukan tidak boleh membuat latar yang fantasi atau imajiner, bukan! Harry Potter sukses berat dengan bangunan latar yang imajiner. Bukan itu poinnya. Tetapi latar yang harus natural itu, alamiah, adalah logis.
Kalau malam yang gelap dong. Kalau tahun 1945 ya suasana revolusi dong. Saat itu belum ada Blackberry kan, jadi jangan bikin latar yang nggak logis.
Film Ainun Habibie menjadi sangat cidera gara-gara memasukkan “iklan” yang saat kejadian itu tidak pernah ada. Menyebalkan sekali, bukan?!
Hal lain yang juga kudu diperhatikan dalam membangun latar cerita ialah jangan terjebak untuk menjadi reporter ya.
Memang benar, bahwa fiksi yang berhasil menyajikan latar dengan kuat, detail, dan rigid tentu akan memiliki kekuatan lebih. Pasti itu! Sebuah novel yang berhasil menceritakan kota Manchester dengan detail, pasti akan memiliki kekuatan lebih. Ini bukan tentang kamu kudu ke Manchester dulu kan, apalagi sekarang kamu dimudahkan dengan adanya Mbah Google yang setia nyediain segala macam data sampai bokep. LOL!
#Kembalikefokus
Yang saya maksud jangan terjebak jadi reporter ialah keasyikan menuturkan latar sampai-sampai kamu lupa bahwa kamu sedang menulis cerita, bukan berita. Artinya, mau sedetail apa pun kamu melukiskan latar, kamu harus selalu menuturkannya dalam bingkai cerita ya.
Misal begini:
Al Shafwa Royale Orchid. Room 734. Dari kamar ini, pesona misterius Masjidil Haram begitu terang di depan mataku. Ya, begitu dekat! Aku hanya perlu waktu 5 menit untuk sampai ke hadapan Ka’bah. Turun ke lift dua kali, lalu di pintu keluar hotel sudah berjulang jelas bangunan dominan abu-abu berarsitektur Timur Tengah ini.
Selalu saja, seperti yang kali ini pun kukatakan pada istriku tanpa bosan, Masjidil Haram beda auranya dengan Masjid Nabawi. Jika Nabawi bernuansa anggun-elegan, Masjidil Haram kental suasana misterius-mistik. Dia mengangguk, membenarkan: ah, senangnya memang punya istri yang nyaris selalu menyetujuiku untuk hal-hal yang tidak prinsipil.
“Kamu ngerasa kayak disambut bara tungku nggak setiap keluar pintu lobby hotel?”
“Iya, panas sekali, maklum suhunya sekarang sampai 47 derajat…” sahut istriku sambil sedikit menghempaskan napas.
Kujawil lengannya, “Lihat itu, di pojok, dekat wanita berjubah hitam yang jualan tasbih dan al-Qur’an itu. Anak tanggung di sebelahnya itu tangannya terpotong. Apa kena qishas ya?”
Istriku menoleh, lalu menepi sejenak saat rombongan besar jamaah dari Turki melintas membelah jalannya. Sebagian besar gundul. Seluruhnya tambun-tambun kayak timbunan lemak.
“Awas, minggir…” kataku sambil menepikannya lagi.
Sebuah bus yang berkaca hitam berhenti di sebelahnya. Hafil, kubaca tulisan itu di body bus itu.
Bandingkan dengan ini:
Malam hari terasa masih terang saja di sekitaran Eiffel ini. Ada banyak sekali orang-orang yang berjualan segala macam merchandise khas Paris di sekitarnya. Anak-anak kecil juga banyak melintas, bermain-main di taman yang hijau membentang ini. Sebuah hotel bertuliskan Hilton berdiri gagah sekali. Di ujung barat taman yang mengitari Eiffel ini, ada sebuah gang kecil yang jika diikuti akan menuju ke sebuah perkampungan penduduk Paris kelas bawah. Suasana yang bertolak-belakang dengan jalan-jalan besar yang mengitari taman Eiffel ini, yang dipenuhi oleh mobil-mobil lalu-lalang tanpa terputus.
Eiffel memang memikat mata. Menjulang tinggi. Para pelancong tampak bersemangat semua untuk menaiki Eiffel dengan cara antri di depan lift itu.
Mana ini tokohnya? Alur certanya? Kayak berita saja?
Begitulah, sekali lagi penting dipahami bahwa sebuah karya bisa memiliki kekuatan plus jika mampu membangun latar yang detail, tetapi tetap kudu dalam bingkai cerita ya, baik melalui narasi atau dialog.
3. Penokohan
Di dalam cerita, tentu wajib hukumnya untuk ada tokoh-tokoh. Tokoh utama hingga tokoh sambilan. Semua tokoh ini harus diciptakan karakternya. Dari watak sampai kebiasaan harian atau pun fashion-nya. Posisi peran setiap tokohnya pun harus terang dalam ceritamu. Itulah yang disebut dengan penokohan.
Semua penokohan ini harus diciptakan oleh penulis secara konsisten dan logis. Kalaupun di bagian tengah atau akhir kok ada perubahan terhadap penokohan seorang tokoh, maka tetap harus ada penjelasan cerita yang logis yang menjadi sebab terjadinya perubahan karakter tokoh itu.
Misal tokohnya sedari awal diceritakan cewek penggila nongkrong di kafe. Di bagian tengah, cewek ini berubah style jadi cewek rumahan, maka harus ada jalinan cerita yang menguraikan secara logis sebab-sebab pemicu hal tersebut ya.
Logika tokoh juga mutlak untuk diperhatikan. Ini banyak terjadi di kalangan penulis muda.
Tokohnya, misal, seorang anak SD kelas 4, tapi dialog-dialognya terasa begitu wise layaknya seorang pertapa usia 60 tahun. Ini nggak logis. Maka sesuaikan saja secara alamiah level setiap tokohmu dengan perannya, caranya berbicara, caranya beraktivitas, dan sebagainya.
Tokohnya tante umuran 48 tahun. Hidup di Jakarta sih. Tapi dialognya kok dibuatin kalimat: “Ciyusss… Kepo iihhh…ceeiileehh…atuttt…atiiittt….”
Ini penulisnya yang minta dikeplak atau tantenya sih? LOL
So, mau dijadiin apa pun tokoh-tkoh karyamu, silakan saja, tepi perhatikan betul aspek konsistensi perannya dan logika ketokohannya.
4. Konflik
Konflik, ya, setiap cerita harus ada konflik ceritanya. Tanpa konflik, cerita yang kamu buat meskipun sudah berhasil membangun alur, latar, dan penokohan, akan terasa sangat datar bin garing bin anyep kayak jomblo akurat. J
Konflik sesungguhnya merupakan jantung dari sebuah cerita. Berdasar konflik yang dibangun bisa dari awal langsung atau mengalir landai, bangunan ceritamu dibangun kan. Maka kemampuanmu membangun titik konflik yang mendidih akan benar-benar menjadi jantung dari bagus/tidaknya tulisanmu.
Dalam sebuah cerita, konflik memang tidak harus tunggal. Kalau tunggal, cerita akan terasa sangat sempit. Konflik boleh diciptakan sebanyak-banyaknya, asalkan kamu mampu mengalirkannya dalam cerita yang mendedahkan konflik-konflik itu dengan baik. Namun begitu, tetap saja hanya ada satu konflik utama. Konflik-konflik lainnya bisa dinyatakan sebagai “bumbu konflik” penyedap cita rasa masakan ceritamu.
Ingat betul ya, bahwa konflik yang membahana, yang disajikan dengan alur yang mengalir, latar yang detail, dan penokohan yang kuat, akan benar-benar menjadi pelengkap bangunan ceritamu. Karena itu, jangan milih konflik yang ala kadarnya. Pilihlah konflik yang cetar, yang tidak monoton kayak Syahrini (#eh), yang kamu yakin bakal menyedot “rasa penasaran” pembacamu. Dukunglah konflik cetarmu itu dengan item-item lainnya dari alur sampai penokohan, maka niscaya ceritamu akan mampu menyeret pembacamu.
Ya, menyeret!
Catat lagi ini.
Cerita yang baik adalah cerita yang mampu “menyeret”: rasa penasaran pembaca untuk terus membacanya, emosi pembacanya sampai dia merasa benar-benar menjadi bagian dari jalan cerita dan kehidupan si tokoh. Tak heran kan, banyak pembaca yang sampai nangis betulan saat membaca sebuah cerita romantis penuh luka berdarah-darah sepanjang masa (#halahhhh).
Gimana caranya saat kamu menuliskan cerita tentang nestapa jomblo akurat yang juga manusia, misal, yang penuh kesepian dan kedinginan sepanjang hayatnya sejak masih bayi sampai umuran 30-an, pembacamu bisa terseret empatinya pada nasib anyep si tokoh. Nah, itulah letak kekuatanmu membangun konfliknya!
So, konflik bebas, boleh apa aja, tapi perhatikanlah untuk membangunnya secara dramatis!
5. Ending
Apakah ending harus selalu ada? Tidak juga sih. Tetapi saya sengaja memasukkan aspek ending di bagian ini dalam rangka untuk membuatmu mengerti bahwa setiap cerita tentu akan memiliki akhirnya. Sekalipun kamu menulis novel romance dewasa setebal 500 halaman, tetap saja akan ada akhirnya. Akhir itulah yang saya maksudkan sebagai ending.
Ending karenanya tidak harus berupa “akhir cerita tokoh”. Tidak. Jangan salah paham ya.
Ending tidak mesti berupa mati atau bahagia. Menikah. Punya anak. Kaya raya! Basi itu. Bukan itu. Ending pun tidak harus ada di akhir bagian novelmu. Bisa ada di mana saja, misal di depan atau tengah, dengan catatan (jika kamu bereksperimen model begini) kamu harus mampu memelihara alur dan logikanya dengan kuat dan baik.
Karenanya, kita mengenal istilah ending menggantung kan. Ending menggantung adalah menutup cerita dengan sebuah adegan atau suasana atau dialog bahkan yang dibiarkan menggantung begitu saja. Ini sah-sah saja.
Tetapi kudu dicatat ya (perasaan banyak banget ya catatan yang kudu kamu catat  dari tadi), mau model pegimana pun ending-mu, buatlah ending yang menyentak! Ya, yang menampar, menyergap, ngagetin!
Ini penting lho, agar pembacamu menjadi lebih teraduk emosinya.
Masak ending gini:
“Aku mati ya, Beib, ahhh….”
Atau:
Angin kering pun berhembus.
Coba gini dong:
“Maafkan tak setiaku selama ini. Kalau boleh kuminta sesuatu padamu, tolong sampaikan pada anak-anakku bahwa aku sangat menyayangi mereka. Tolong peluk mereka setiap malam jelang tidur, dan katakan bahwa pelukanmu adalah pelukan sayang ayah buat mereka…”
#Huaahhh..aku jadi pengen nangis sendiri…
Intinya, ending itu bisa ada bisa tidak secara formalnya, bisa ditempatkan dimana saja. Yang terpenting adalah akhir dari ceritamu harus nampol, menggigit, dan menyeret serta menguras emosi pembaca.
To be continued (sekarang mau nangis dulu akibat ending ini hiikks L)
 
sumber : http://ediakhiles.blogspot.com/2013/04/silabus-menulis-fiksi-tutorial-praktis.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar