Senin, 19 Januari 2015

MENGAPA NOVELMU SAYA TOLAK? (BAGIAN I) (Catatan yang Bisa Bikin Kalian Gedek, Tapi Saya EGP Aja)

“Kamu nggak sayang lagi padaku ya?” tanyanya.
“Sayang….” jawabku.
“Tapi kok kamu berubah?” tanyanya.
“Nggak kok,” jawabku.
“Iya kok, kamu berubah. Tolong jelasin aja dengan jujur,” katanya.
“Nggak kok, aku nggak ada apa-apa,” jawabku.
“Kamu bohong,” katanya.
“Sumpah,” jawabku.
“Kamu nggak terbuka begitu,” katanya.
“Sudah kubuka semuanya padamu tanpa kecuali,” jawabku. *silakan curiga.
“Tapi kamu tetap telah berubah,” katanya.
“Aku nggak ngerasa begitu,” jawabku.
“Setidaknya menuruku,” katanya.
“Iya kan cuma menurutmu,” jawabku.
“Ya iya, karena aku yang merasakannya,” katanya.
“Aku beneran nggak merasa berubah,” jawabku.
“Ah, sudahlah, aku capek,” katanya.
“Aku juga,” jawabku.
“Aku mau pulang aja,” katanya.
“Aku juga,” jawabku.
Bye,” katanya.
Bye,” jawabku.
****
Ini penyajian cerita apa-apa pun coba?! Katanya, jawabku, katanya, jawabku. Lemparin KBBI, tahu rasa deh! Tanpa sela narasi suasana, setting, emosi, karakter tokoh, dll.  *Saking gedeknya sampai saya nggak bilang apa-apaan, tapi apa-apa pun.
Guys, tanpa saya merasa perlu menghabiskan waktu lebih lama lagi untuk membaca halaman kedua, ketiga, apalagi keseratus, saya langsung akan menyingkirkan naskah novel ini.
Why? Nggak adil iiihhh, hargain penulis dong, baca semua dong, capek tahu nulisnya, sampai punggung bengkok gini, mana laptop dapat utang lagi, udah nunggak lagi ngangsurnya…” kata penulis dengan nada meninggi.
“Enak aja!” sahut saya dengan intonasi yang tak kalah tingginya.
Saya nggak sudi ngabisin waktu sekian jam, sekian hari, hanya untuk membaca sebuah naskah yang saya yakin sekali disajikan dengan teknik yang amburadul. Lebih baik saya ngopi, tennisan, futsalan, jalan-jalan, ngobrol, nonton bola, atau tedooorrr.
Weh! Egois!” sergah penulis. “Boleh jadi di halaman 20 ntar ada kerennya.”
“EGP!” tukas saya.
Saya punya dasar metodologis untuk langkah yang saya terapkan ini. Dan saya kira penting bagi penulis untuk mengetahuinya. Dan saya yakin, list ini dipakai secara umum oleh penerbit-penerbit lain.
Pertama, orang-orang akan menilai orang lain dari kesan pertama. First signal. First impression. Kau tidak berhak sama sekali untuk memaksa orang bertahan jalan denganmu dengan dalih, “Ntar aku bisa memberimu sikap yang manis kok, kalau yang kemarin aku marah-marah itu hanya selentingan, selingan, bukan aku yang sesungguhnya. Jadi plis jangan keburu ngejudge aku.”
Hemm, enak aja!
Self excuse.
Dunia rame hari ini kagak demen pada argumen meminta pemaafaan atas diri sendiri. Meminta orang lain selalu mengertimu. Apalagi dunia industri. Jika kau menulis novel yang membosankan di 3 halaman pertama, jangan meminta pembaca untuk bertahan terus membacanya sampai 200 halaman dengan dalih, “Di belakang, banyak lho pesan inspiratifnya, juga setting-nya yang keren.” *Iya, di belakang sekali, di novel lain yang ketumpuk di belakang novelku.
Jadi, jika kau melakukan kesalahan yang membuat orang lain gedek padamu, kau tak berhak sama sekali untuk menuntut orang lain untuk melebarkan dadanya agar memberimu waktu lagi dan lagi. Itu dunia orang lain, bukan duniamu. Itu hak mereka, bukan hakmu. Dan kau tidak laik memasangkan hakmu pada hak orang lain. Pasti nggak pas! Kamu gemuk, dia langsing, beda banget kan? Ngoaahhaaa
Waktu melaju sangat cepat, siapa yang tak bisa memberikan sikap, karya, terbaik padanya, maka ia akan terlibas tanpa ampun,” kata sang mativator yang gagah perlente dari atas mimbar, meski saya tahu dia kalau sedang di rumahnya selalu dibentak istrinya untuk ngepel dan ngulek sambal.
Tak ada pilihan apa pun bagimu kecuali berikan first impression yang hangat, keren, dan memikat.
Jangan coba-coba menulis cerita yang njelehi, bosenin, di bagian awal karena itu pasti ditinggalkan pembacanya. Sama persis dengan jangan coba-coba songong belagu banget tingkahnya kayak orang paling cantik se Jogja jika tak ingin anyep selamanya. Tahu anyep? Ambil air yang sudah ditaruh di kulkas semalaman, lalu campurin dengan es batu, tambahin soda sebotol, lalu pakai untuk cebok/cawik. Begitulah gambarannya. Ngoooaaahaaaa
Kedua, orang-orang akan menilai konsistensimu. Boleh saja first impression­-mu keren, memikat hati seorang lelaki muda bermobil Honda Jazz RS putih, lalu kau berkesempatan jalan dengannya. First impression-mu mencerminkan kau orang yang rendah hati, low profile, tidak belagu. Tapi giliran tiga kali diajak makan, kau memperlihatkan rasa eneg, mual, bahkan mau muntah jika dibawa makan ke Taman Bungkul atau Alun-Alun Kidul.
“Lho kamu kenapa? Nggak suka ya makanan lesehan begini?”
“Iya, alergiku kambuh nih, cocoknya yang pasta-pasta aja…”
*Lalu besoknya saya akan sodorin pasta gigi biar dia makan buat sarapan. Bye! Happy anyep again and again.
Kau harus selalu memberikan konsistensi sekeren first impression­-mu. Harus! Jangan PHP pembaca. Beri pembaca kepastian dan keyakinan bahwa tulisanmu stabil kerennya, jlebnya, chemistry-nya, dari halaman awal sampai akhir. Halaman-halaman awal keren, ehhh…kian lama kok kian mbulet, muter-muter kayak odong-odong, ya sudah saya kan ucapin wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh *jawab kenapa sih orang panggil salam gitu? Jadi curiga ini halaman-halaman awal nulis beneran sendiri atau copas ya?
Ketiga, orang tak suka digombalin. Suer! So, jangan pernah gombalin pembaca dengan naskah novel yang sok tebal, kayaknya penulis hebat, kaya konflik, setting detail, temanya guedeee banget, padahal aslinya hanya kepalsuan. Setiap helai naskahmu haruslah memang memainkan peran penting bagi keseluruhan ceritamu. Setiap dialog dan narasi, adegan apa pun, haruslah menyumbangkan kekuatan bagi keutuhan ceritamu. Haruslah menjadi bagian dari kisi-kisi keutuhan ceritamu.
Jangan gombalin pembaca dengan naskah yang bertebal-tebal padahal sebagian besarnya hanyalah helai-helai nggak penting, ditebal-tebalkan. Itu naskah yang penuh kepalsuan!
“Jadi?”
“Apanya?”
“Ah, pura-pura lagi…”
“Iya, apanya?”
“Yang kemarin malam?”
“Ehmmm…”
Lhah…”
“Lupa…”
“Ah…”
“Yeee, lupa kok…”
“Aku serius…”
“Aku juga…”
“Ya jawab…”
“Bentar….”
Mainin HP. Senyum sendiri.
“Ehhh….”
Sorry…”
“Gimana?”
“Apanya sih?”
“Tadi…”
“Yang mana?”
“Iihhhh…”
“HP?”
“Bukan…!”
“SMS?”
Menggeleng.
“BBM?”
Menggeleng.
“WA?”
Menggeleng.
“Apa?”
“Jawabanmu….”
“Hemmm…”
“Ayo…”
“Bentar….”
Mainin HP lagi.
“Ah kamu!”
“Ehhh, jangan marah.”
“Aku nunggu ini….”
“Nunggu apa?”
“Jawabanmu.”
“Iya.”
“Malah iya.”
“Gimana ya?”
Diam.
Aku juga diam.
Detik demi detik berlalu tanpa suara.
“Udah?”
“Apa ya?”
“Haduh…”
Sumpah mati gedek banget dipalsuin begini. Guys, catat nih, selugu-lugunya orang ya kagak ada yang sudi dipalsuin, digombalin. Apalagi pembaca yang udah buang duitnya sekian puluh ribu untuk menebus novelmu, ehhh…ternyata sebagian isinya adalah kepalsuan!
Kau beli tahu isi seharga tiga ribu perak aja, ternyata begitu dibawa pulang, mau dimakan, isinya rumput coba? Bayangin tuh… Dikira kamu sapi kali ya. Pisss
Keempat, jangan ruwet aja jadi orang. Kagak ada orang yang suka bergaul, apalagi berhubungan, dengan orang yang bawaannya ruwetttt melulu. Apa-apa dibikin  ruwet. Udah kayak mantannya Saskia Gotik aja. Kesannya biar intelek, cerdas, cendik pandai, telik sandi, bank plecit (halah…).
Pembaca hanya ingin membaca cerita yang menghiburnya atau memberikan pesan bermanfaat untuk hidupnya. Sebagian bahkan hanya pure mencari hiburan belaka. Saat kau buat kepala mereka bengap babak belur benjol morat-marit sampai persegi empat kayak kepala Sponge Bob akibat ditinjuin tulisanmu yang ruwet bin rumit, pastilah kau akan dicampakkan.
Alur tentang makan frechfries aja sok banget difilosofikan dengan filsafat Language Game Ludwig Wittgenstein atau filsafat Gadamer tentang “Obyek yang menciptakan bahasa, bukan subyek”.
Simply reading, simply story, simply life.
Catat nih, Guys: “Orang cerdas adalah orang yang mampu menyederhanakan hal rumit, bukan merumitkan hal rumit, apalagi merumitkan hal sederhana”.
Kelima, saya teringat ada janjian sama Rama @damar_kembang dan Lora @abdulhamid82. FYI aja, berani melanggar janji sama mereka, hidupmu akan menderita. Udah berasa di depan neraka aja. So, pesan saya, jangan pernah ingkar janji sama mereka, meleset pun jangan, apalagi membantah nasihat, wejangan, atau taushiyah mereka. Jika di dunia ini masih ada orang bersih, saya yakin itu pasti mereka! So, tulisan ini to be continued aja.
Next…
 
 
sumber : http://ediakhiles.blogspot.com/2014/03/mengapa-novelmu-saya-tolak-bagian-i.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar