Senin, 19 Januari 2015

HARGA MINDSET BAGI PENULIS

Mindset, ya baca mindset, bukan headset, beset, apalagi manset. Only read it as mindset! Do you know what I mean? *Berasa lagi di Pare Kediri*
Bagi penulis, fiksi dan non-fiksi, harga mindset setara dengan harga kehidupannya. Semakin ia bisa meluaskan mindset-nya, semakin luaslah hidupnya. Semakin ia berhasil meninggikan level mindset­-nya, semakin naik pulalah level karyanya. Dengan kata lain, klaimnya, penulis yang mindset-nya tidak tinggi, biasa-biasa saja, niscaya ia hanya akan menghasilkan karya yang tidak tinggi pula, biasa-biasa saja pula. Sebuah karya yang biasa-biasa saja niscaya nasibnya di level kompetisi publik, sebutlah pasar, akan biasa-biasa saja pula. Karya yang biasa-biasa saja tentulah tak akan mampu berbicara banyak, baik secara kemanfaatan, popularitas, dan finansial pula. Tak salah kan jika tadi saya mengklaim bahwa harga mindset bagi penulis adalah harga kehidupannya.
Pertanyaannya kini pastilah seputar: Bagaimana meluaskan mindset? Setelah berhasil menanjakkan mindset, apa manfaatnya bagi proses kreatif dalam berkarya? Lalu, bagaimana pengaruhnya terhadap kompetisi di ranah publik?
Baiklah, mari duduk di sekitar saya sambil bersama-sama menikmati secangkir kopi yang mulai layu dicipoki freon ini.
Saya akan menggunakan teori Ludwig Wittgenstein, seorang filsuf logika bahasa yang sangat menakjubkan dengan konsep Language Game-nya (kapan-kapan saya akan tuliskan secara khusus konsep ini), dalam mengiris all about mindset tersebut.
Wittgenstein memberikan ilustrasi menarik di sini, yaitu, “Jangan menjadi lalat dalam toples kaca.
Seekor lalat yang terkurung di dalam sebuah toples kaca tentu tetap bisa melihat obyek-obyek di sekitarnya. Umpama toples kaca itu ada di kamar @AvifahVe, niscaya lalat malang itu akan melihat: stiker Real Madrid di sekujur tembok, sebuah lemari setengah kayu setengah triplek, seonggok tivi yang hidup segan mati tak mau, sebuah kasur berseprei Real Madrid (tentu beserta jejak-jejak kentut di atasnya), sebuah ember yang layu dimakan usia, sebuah sajadah yang lebih banyak dilipat daripada digelar, dan seutas tali rafia yang membentang di sisi dinding utara, yang menanggung pilu karena dipenuhi oleh jejeran onderdil dalemannya.
Lalat malang itu menyaksikan “dunia kamar” itu dari balik kaca bening toples yang mengurungnya. Tanpa ampun, ia berpikir dan berpesepsi bahwa, “Oh, ternyata dunia ini adalah Real Madrid, tivi yang kecapekan, ember yang uzur, serta kasur yang penuh nestapa itu.”
Ia menjadi lalat yang benar-benar summun bukmun umyun fahum la ya’qilun. Ia tak pernah menginsafi bahwa ia semata terjebak di sebuah “dunia kamar” belaka, yang cuma merupakan serpihan imut dari dunia luas yang sesungguhnya, yang di luar sana menyuguhkan jutaan obyek beserta warna-warninya yang sangat amazing.
Ia tak tahu bahwa di luar sana ada MU yang merah itu keren euy, Amplaz yang riuh dengan gadis-gadis pirang bercelana dangkal, jalanan yang dijejali anak-anak muda yang saling memasang celurit di pinggang pasangannya di atas motor, hujan yang tak pernah alpa menciumi tanah setiap senja mengerjap, kopi kental yang melesatkan imajinasi, sejoli yang berantem di tepi jalan raya gara-gara belum tuntasnya hitung-hitungan bayaran ngafe tadi, sampai sepasang young adult yang memutuskan untuk LDR gara-gara si cewek illfeel sama lelakinya yang mencukur klimis jenggotnya. “Kau bukan lagi lelaki berkalung jenggot, Mas, padahal satu-satunya hal yang kusuka darimu hanyalah jenggotmu itu!” pekiknya sambil mengibaskan poninya yang curly dan membanting HP (kemudian bagian ini disesalinya dengan sangat). *sodorin jenggot kambing*
Dunia yang tak terbatas ini, subyek yang tak terdefinisikan tingkahnya ini, obyek yang tak terhitung eksotismenya ini, pelangi yang tak lagi selalu tujuh warna ini, hujan yang tak mesti teriringi November Rain lagi ini, hutan yang tak selalu berada di kejauhan kota ini, lelaki yang tak selalu mencintai wanita lagi ini, gadis yang tak lagi sedih saat kehilangan selaput daranya ini, lelaki yang tak lagi tahu memaknai kesetiaan ini, anak-anak kecil yang tak lagi perlu menunggu lulus SD untuk jatuh cinta ini, ayam yang tak lagi hanya milik binatang ini, mobil yang tak lagi dibeli karena kebutuhan transportasi ini, bahkan agama yang tak lagi disakralkan ini, luput dari mindset lalat tersebut.
Akibatnya, ia hanya akan berpikir, bicara, dan menulis tentang “dunia kamar” itu. Tidak di luarnya. Tentu, pemikiran, pembicaraan, dan tulisannya akan terasa sangat sempit, monoton, biasa saja, akhirnya membosankan. Bukankah dihajar kebosanan merupakan masalah eksistensial dalam setiap helai kehidupan kita?
Mau tak mau, dalam upaya meluaskan mindset, lalat itu harus memecah toples kacanya, keluar dari cangkangnya, dari kamarnya, dari rumahnya, dan berjumpa dengan banyak lalat lainnya untuk berbincang, membaca, berkelana, menyimak, dan merenungkan. Hasil semua kelananya itu akan membuatnya benar-benar melek bahwa dunia itu wow banget, beda bingit dengan “dunia kamar” tadi!
Keluar rumah, berjalan-jalan, bergaul, berbincang, tertawa, berempati, mendengarkan, membaca, dan merenungkan merupakan langkah-langkah yang harus menjiwai hidup penulis. Ia harus selalu mampu memetakan kapan waktunya menulis, kapan masanya membaca, kapan saatnya mendalami, dan kapan momennya berjalan-jalan. Ia tak bisa melulu menulis, sebagaimana ia tidak bisa melulu membaca dan jalan-jalan. Membaca, menulis, dan berjalan-jalan merupakan satu mahar yang harus dibayarkan oleh penulis jika hendak meminang karya yang cantik.
Jika mindset telah diluaskan, cakrawala-cakrawala telah berkelejaran di kepala, tentu saja penulis akan sangat leluasa untuk memilah, memilih, dan memiluh setiap tulisannya. Dari level ide, outline, plot, karakter, dialog, narasi, konflik, setting, twist, pesan moral, hingga ending. Ia akan begitu sangat leluasa untuk menjungkir-balikkan apa pun yang dituliskannya. Ia akan sangat kuasa untuk bertahta sebagai “tuhan” (“t” kecil) pada setiap tulisannya. Begitulah normalnya hidup seorang penulis.
Otomatis, sebuah karya yang dihasilkan oleh penulis yang ber-mindset keren akan tsakep pulalah untuk dibaca. Menyelamatkan setiap halaman dalam sebuah karya agar tidak digodam keluhan bosan oleh pembacanya menjadi ukuran keberhasilan penulis dalam menyematkan “unsur-unsur unik” di dalamnya. Otomatis pula, karya yang demikian akan mencuat ke permukaan, jadi referensi bacaan, jadi gunjingan, jadi buruan, yang secara telak, cepat atau lambat, akan memanahkan penulisnya ke langit popularitas dan komersialitas. Dan, sekali lagi, otomatis lagi, kemampuan menyematkan keunikan-keunikan tersebut semata bersumber dari keluasan mindset-nya.
Ya, ya, ya, I know, untuk mencapai level itu sungguh tidaklah sesederhana provokasi note ini. Perlu proses yang tidak jenak. Saya sendiri belumlah apa-apa dalam konteks tersebut. Membaca Kitab Omong Kosong Seno Gumira Ajidarma, Sang Alkemis Paulo Coelho, dan Seratus Tahun Kesunyian Gabril Garcia Marquez, misal, selalu membuat saya gemetar minder. Namun, sebagai sebuah hikmah (ya, bukankah hidup tanpa menyandarkan diri pada hikmah akan membuat kita kehilangan kesempatan untuk menyadari pesona, istilahnya Fritjof Schuon, Realitas Ultim?), setingkat apa pun level capaian seorang penulis, fardhu ‘ain baginya untuk mengerti wacana ini. Bahwa peluasan dan peluasan dan peluasan mindset merupakan harga kehidupan bagi seorang penulis.
Kau tahu diriku, kutahu dirimu, kita sudah tak sendiri lagi…” Sayup-sayup, suara melengking Vivi, bukan Ve, melindap dari speaker komputerku. Tak Tunggu Balimu, ya itu lagunya. Sebuah lagu dangdut koplo yang popular lantaran menawarkan corak musik yang unik…
 
sumber : http://ediakhiles.blogspot.com/2013/11/harga-mindset-bagi-penulis.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar