Senin, 19 Januari 2015

FRASE, BOLEHKAH DIPAKAI DALAM CERITA?

Apa yang dimaksud frase?
Ia adalah anak kalimat. Sebuah kalimat dengan demikian terdiri dari kumpulan frase. Demikian gampangnya (meski tak sepenuhnya akan selalu begitu pula sih). Pendek kata, gini aja biar tak membingungkan kalian, “Frase adalah kalimat tak sempurna, alias anak kalimat, belum jadi sebuah kalimat, atau kalimat gagal.
Kita tahu bahwa kalimat terdiri dari Subyek + Predikat + Obyek + Keterangan (SPOK). Ini struktur kalimat yang komplit. Misal:
Aku berlari dengan cepat ke sungai itu.
Aku memeluknya erat-erat.
Aku membencinya dengan dendam menyala-nyala.
Minimalnya, sebuah kalimat harus memenuhi kaidah Subyek + Predikat (SP). Misal:
Aku berlari.
Aku menjerit.
Aku makan.
Yang tidak memenuhi kaidah minimal itu disebut frase. Ya, karena tidak memenuhi syarat minimal sebagai kalimat. Frase tidak bisa diberdirikan sendiri seolah ia kalimat. Tidak boleh. Karenanya, frase tidak boleh dipakai dalam penulisan cerita, kecuali untuk fungsi snapshot.
Nah, ini. Ada pengecualiannya lho ya.
Apa itu snapshot?
Ia bak “tembakan tiba-tiba”, “mendadak”, “seketika”, bukan seketiak, yang fungsinya dimaksudkan untuk mendalamkan atau menjlebkan sebuah kalimat atau alur (adegan) atau setting. Snapshot boleh diletakkan di dalam narasi atau pun dialog. Bebas.
Snapshot dibuat dalam bentuk frase. Iya, sengaja begitu memang caranya. Bahkan, snapshot juga boleh dibuat hanya dalam sebuah kata, atau dua kata, yang tidak membentuk frase apa pun.
Misal begini:
Malam kian pekat dihajar legamnya. Senyap. Tanpa suara. Seolah mati. Hanya desir angin yang mengusik gendang telingaku.
Perhatikan bagian yang saya bold itu. Itu jelas bukan kalimat. Senyap hanya terdiri dari satu kata. Tanpa suara dan Seolah mati terdiri dari dua kata. Dengan hadirnya “tembakan tiba-tiba” begitu, taste jleb suasana yang benar-benar pekat dan senyap kian tercipta kan. Begitulah fungsi snapshot.
Selain fungsi “tembakan tiba-tiba” yang jleb begitu, snapshot berfunsgi melincahkan tulisanmu. Tidak kaku, tak kudu terstruktur sedemikian bakunya bak buku pelajaran sekolah.
Misal:
Udara panas sontak menyambar muka saat kakiku menapak di depan Shafwah Orchid ini. Mekkah memang selalu gahar panasnya. Menumbuk. Tanpa ampun. Sekalipun kau berpayung, mukamu takkan selamat darinya. Udara selalu mampu menerabasmu. Sekujur tubuh. Bahkan, begitu mendidih.
Perhatikan bagian yang saya bold itu. Itu semua adalah snapshot, terdiri dari satu kata, dua kata, bahkan tiga kata. Itu tentu bukanlah kalimat, karenanya ia jatuh menjadi frase. Karena fungsinya sebagai snapshot, jadilah ia berguna kan. Mendramatisasikan suasana panas yang kau bangun, plus melincahkan caramu bertutur tentang panas di Mekkah.
Sampai di sini, buat saya, sah bahkan penting hukumnya untuk menggunakan snapshot dalam menulis cerita. Saya malah mewajibkan untuk menggunakan snapshot jika ada penulis yang bertanya tentang hal itu.
Ya, namanya juga paham, aliran, tentu saja ada perbedaan mazhab. Itu mah biasa, nggak usah diributkan. AS Laksana mengharamkan snapshot. Pernah ia mengkritik cerpen Requim Kunang-kunang Agus Noor dengan menohok masalah frase (baca: snapshot) yang memang menjadi kekuatan cerpen-cerpen Agus Noor.
Mazhab lain, misal AS Laksana, bertentangan dengan saya, ya biarin sajalah. Jangankan cuma teori teknik menulis, tafsir al-Qur’an aja bejibun gitu kok perbedaan-perbedaannya. Syiah bilang Ali Bin Abi Thalib adalah imam pertama. Syiah hanya mau menerima riwayat hadits dari Ahlul Bait. Di luar itu, termasuk Abu Hurairah, ditolak.
Sebaliknya, kaum Sunni bilang Ali Bin Abi Thalib adalah khalifah keempat. Kaum Sunni menerima semua riwayat yang masuk dalam Kitabus Sittah. Ya biarin to. Yang lebih penting ialah saling adem, nggak usah jadi seteru, saling menyalahkan, apalagi memantik tragedi macam Karballa. Bukankah pembaca itu hanya ingin membaca cerita yang keren menguras emosinya?
Namun, saya juga selalu menekankan bahwa penulis harus paham saat ia menggunakan frase sebagai snapshot. Jangan sampai ia menggunakan frase, tapi tidak berfungsi  sebagai snapshot, karena ia tak tahu beda frase dan kalimat. Kata AS Laksana, namanya tukang yang harus tahu peralatan bertukang, kan? Jangan sampai gergaji kok dipakai untuk cukur rambut, kan? Atau #KampusFiksi digunakan untuk cari jodoh #eh.
Saya setuju pada AS Laksana tentang hal itu. Selebihnya, yang paling utama ialah berkarya itu sendiri.
Insya Allah, lain kali saya akan posting tentang “Bagaimana cara membikin kalimat-kalimat yang lincah dalam cerita.
Yuk!
 
sumber : http://ediakhiles.blogspot.com/2014/01/frase-bolehkah-dipakai-dalam-cerita.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar