Senin, 19 Januari 2015

“DOSA-DOSA PREETT” PENULIS (Catatan Mereview Banyak Penulis Muda yang Preettt)

Menjadi penulis adalah adalah pilihan luar biasa: cerdas, kreatif, interpretatif, dinamis, dan mampu mempengaruhi opini dan bahkan prinsip hidup pembacanya. Karena luar biasa, tentu tidak begitu banyak orang yang bisa begitu. Bedanya yang luar biasa dengan biasa tentu saja, salah satunya, adalah kesedikitannya itu. Ini sama pula dengan semua pilihan “menjadi” lain-lainnya yang sedikit itu tadi.
Tapi tidak berarti bahwa keluarbiasaan itu lantas menyandangkan label “ma’shum” (tanpa dosa) bagi yang bersangkutan, termasuk kaum penulis. Dosa yang gue maksud di sini bukanlah dosa spiritual, layaknya dosa akibat judi, nipu, korupsi, PHP, dll. Bukan, gue bukan ustadz, jadi gue kagak perlu ambil “jatah hidup” para ustadz yang menjadikan pahala dan dosa sebagai lading pertaniannya L.
Dosa-dosa penulis yang gue maksudkan dalam note ini ialah “pengkhianatan” penulis terhadap pangkat keluarbiasaannya yang memilih menjadi penulis. Karena keluarbiasaan itu dikhianati, akibatnya ia lantas tidak menjadi luar biasa lagi. Mengerdil menjadi biasa, sehingga kemudian nggak lagi ada bedanya dengan pilihan-pilihan hidup lain yang biasa saja.
Saat dosa-dosa ini dilakoni, sebagian dan apalagi keseluruhannya, oleh seorang penulis, pastilah ia kan segera gugur dari pangkat keluarbiasaannya sebagai penulis. Terangnya, ia takkan pernah bisa mencuat ke permukaan sebagai penulis yang luar biasa. Ah, menjadi penulis tapi tidak bisa luar biasa akibat pengkhianatannya sendiri, tentu saja bukanlah situasi yang layak dipertahankan. So, layak baginya untuk berhenti saja menulis (ekstrem idealis ini sih…LOL).
Berikut daftar dosa penulis yang paling sering gue temui:
1. OverPEDE menganggap diri serba tahu!
Salah satu keuntungan menjadi penulis ialah tertuntut untuk “lebih tahu” dari pengetahuan umumnya. Apa pun yang ditulisnya. Beruntung, ya dong, sebab dengan merasa tertuntut itulah dia akan berusaha untuk meluaskan cakrawala pengetahuannya (kata Hans-Georg Gadamer “fusion of horizons”) saat akan menuliskan apa pun. Mau tentang cabe, panu, ketek, cinta, Jepang, Korea, MotoGP, dll. Pengetahuan umum yang biasa saja tentunya harus dieksplor lebih dalam lagi oleh penulis agar ia mampu menghadirkan cakrawala pengetahuan yang lebih dalam lagi.
Celakanya, mayoritas penulis terlalu overPEDE ama pengetahuan yang telah dimilikinya. Akibatnya, ia menjadi merasa tak tertuntut lagi untuk mencari tahu, tahu, dan tahu lagi, sehingga ketika ia menulis dengan hanya berdasarkan pengetahuan yang telah ada, yang dengan PEDE dianggapnya telah sangat memadai, jadilah tulisannya menyerupai tempe! Tulisan berkelas tempe tempatnya di penggorengan, entah dijadiin tempe goring atau mendoan.
Celaka memang watak “sok pinter” gini. Lagi-lagi gue ngutip Wittgenstein, sobatnya Bertrand Russell dan White-Head itu, bahwa itu sama persis dengan menjadi “lalat dalam toples kaca”. Bisa melihat kemana-mana sih, seolah pandangannya telah menjangkau seluruh dunia, padahal ia tak pernah kemana-mana dan hanya tetap berada dalam toples kaca itu, sehingga sejatinya yang ia ketahui, ia tuliskan kemudian, hanyalah penglihatan yang terbatas dalam kurung toples kaca itu.
Ironis bukan?
Seolah-olah lo telah begitu genius menuliskan tentang kultur Arab, padahal yang lo sajikan hanya kulit luarnya, tempelannya, kayak tompel, sehingga Arab pun hanya menjadi tompel dalam tulisanmu.
Yang begini ini, takkan pernah bisa menjadi luar biasa!
2. Abai pada Detail
Tahukah lo mengapa Valentino Rossi begitu legendaris dalam sejarah MotoGP? Bukan Lorenzo kan, apalagi Pedrosa yang demen nungguin lampu merah saat akan disalip lawan-lawannya? :p
Gue kasih tahu. Dalam sebuah perjumpaan gue dengan Rossi di paddock Sepang tahun 2011, gue bertanya gini, “What do you think about latest breaking?”
Jawaban Rossi membuat gue terperangah. Pertanyaan gue cuma secuil gitu, jawabannya panjang dan kuat:
“Semua rider MotoGP dituntut harus bisa latest breaking. Semua bisa! Tapi yang bedain satu rider dengan rider lainnya ialah perhitungan macam supersonik dalam sepersekian milidetik untuk memutuskan mengerem di tikungan. Butuh sistem pengereman, tapi terutama lagi gestur rider merespons traksi ban depan. Kesalahan respons tubuh berdampak fatal sekali. Bukannya bisa memangkas jarak sepersekian milidetik, tapi malah bisa kian lebar akibat kendala traksi dan tarikan gas berikutnya yang kudu tepat perhitungannya…”
Ngeeeekkk!!!
Makjleb banget!
Ya itu yang bedain Rossi ma yang lain-lain, Beroo/Beriii….
Ada detail yang sangat rigid dan presisi di situ.
Ahaaa, penulis pun harus mengindahkan ini. Jika lo abaikan detail, yang bisa jadi akibat bawaan dari dosa pertama tadi, tulisan lo nggak akan mampu memberikan “makna lebih”.
Misal lo nulis tentang tema “cinta dan Jepang”.
Penulis yang mengindahkan detail pasti akan menggali pengetahuan lebih tentang dua poin itu, untuk kemudian mengeksplor lebih detail tentang (misal) sakura, salju, gunung Fuji, dll. Hasilnya? Ia nggak bakalan hanya sok Jepang dong. Nggak cuma akan sok arigato, ajinomoto, miwon, rinso, dadaku rata, manakataha, kukiratakada, palamupecah, pesekkaliidungmu san, marwoto, bimo, suprapto, suntoro, waluyo, sagita (halah #gagalfokus!).
Ingat ya, salah satu pembeda utama antara karya bermutu dan murahan, selain soal ide dan tema yang bajigur, ialah karena detail yang juga bajigur!
Maka, kesimpulannya, bajigurkanlah detailmu! Oke ya, bajigurrr… J
3. “Emosi Sesaat”
Baru kenalah udah menjudge baiiikkkk banget, gue jatuh cintaahhh, gue bakal bahagiaaa bangettt bila jadiaan ma diaaaaa…halah…preetttt!!!
Itu emosi sesaat. Dan emosi sesaat selalu mendustai kesejatiannya. Emosi sesaat adalah kamuflase yang tidak pernah layak untuk dijadikan parameter keaslian seseorang atau sesuatu.
Belum tahu kan lo, diaaa yang perutnya kotak-kotak kayak bungkus sempak lalu benar-bener berjiwa pelindung? (Gue sendiri sih nggak perlu promosi dalam hal ini… J).
Belum tahu pasti kan lo, si admin Jacob @divapress01 itu pesonanya macam apa coba?
Belum bisa yakin banget kan lo, si ibu penulis yang religiussss banget dalam tweetnya itu, dalam bukunya itu, jebule pas gue mau undang untuk Just Write 2, masya ampun itu nuntutnya macem-macem? Minta logonya dipasang (padahal ini event nirlaba), fee-nya 10jt, hotel bintang 10 (gue bayangin gimana kalo gue lempar lo ke genteng Novotel aja kali ya biar paling tinggi!), plus bla-bli-blu. Preettt! Menilai orang atau sesuatu dari permukaannya sungguh benar-benar kagak pernah adil! Itulah emosi sesaat.
So, “emosi sesaat” adalah dosa buruk penulis untuk terus dipiara. Begitu rampung nulisnya, udah ngerasa ini tulisan terbaik se dunia, berhak dapat Nobel Peperangan J. Main kirim, main sent, ehhhh…begitu 2-3 hari kemudian dibaca ma temannya, dia baru nyadar kalo tulisannya typo banget, banyak nggak benernya, banyak nggak mutunya, bahkan memalukan!
Menyandarkan mutu tulisan pada kebiasaan miara emosi sesaat mencerminkan bahwa penulisnya adalah pemalas! Malas baca dirinya sendiri, malas evaluasi, malas sharing! Bahkan, bisa jadi itu adalah cerminan wataknya yang egois-arogan.
Giliran dinilai oleh tim seleksi, atau juri, baru buka halaman pertama aja udah compang-camping, dibuang, dijadiin pesawat-pesawatan mainan anak gue, ehhh…penulisnya marah! Nuduh tim seleksi atau dewan juri nggak profesional, nggak membaca utuh, nggak kapabel!
Hah, preettt deh!
Gitu ya? Ada yang merasa bagian dari penulis preeeettt ini? Good preet deh, kalo kagak segera bertobat, insaf, memperbaiki dosa-dosa prettt lo. J
 
sumber : http://ediakhiles.blogspot.com/2013/03/dosa-dosa-preett-penulis-catatan.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar