Senin, 19 Januari 2015

BUDAYA MEMBACA DAN MENULIS


Menurut survei USAID kemampuan membaca anak-anak Indonesia kelas awal yaitu kelas dua SD sangatlah tinggi, hanya 5,9% saja yang tidak bisa membaca. Tapi minat baca masyarakat di Negara-Negara ASEAN termasuk Indonesia adalah yang paling rendah di seluruh dunia. Hanya 1 dari 1000 orang yang memiliki minat baca tinggi. 

Problematika Membaca dan Menulis

Kemarin sempat ramai di media sosial Whatsapp dan BBM pembicaraan mengenai buku karya Edi Akhiles yang berjudul “Putusin Nggak Ya?”. Memang jika dilihat sekilas tidak ada hubungannya dengan budaya membaca ataupun menulis. Jika direnungkan, sangat menyedihkan karena akibat yang ditimbulkan tidak hanya bagi pihak penulis melainkan bagi seluruh penulis dan calon penulis di seluruh Indonesia. Saat ini Bangsa Indonesia sama sekali tidak pandai membaca, mereka hanya sekedar bisa membaca saja. Orang yang pandai membaca akan membaca sekaligus berusaha memahami isinya, orang yang sekedar bisa membaca akan segera menilai tanpa memikirkannya secara matang. Setidaknya ada empat hal yang perlu menjadi perhatian,
Pertama, kritik tajam dan cacian terhadap buku itu dan pengarangnya bisa jadi dilakukan oleh orang-orang yang memiliki dendam pribadi dengan yang bersangkutan. Kemudian dibungkus dengan isu yang penggerusan akidah sehingga dipercaya oleh semua orang. Yang kedua, komentar miring tentang Edi Akhiles didasarkan atas praduga tanpa dasar pasti. Mereka hanya melihat pesan berantai dari orang lain kemudian langsung menghakimi penulisnya. Sikap ini seperti sudah mendarah daging sehingga setiap ada berita yang datang dari antah baerantah selalu diterima sebagai fakta. Yang ketiga, stiap orang yang menerima pesan berantai itu akan berpikir bahwa menulis harus dengan ilmu yang mumpuni. Sehingga yang baru belajar menulis haram untuk coba-coba menulis buku. Yang keempat, penulis pemula akan malas untuk menelurkan karyanya karena takut kritik dan cacian seperti yang dialami oleh Edi Akhiles.
Memang kemajuan teknologi memudahkan kita dalam banyak hal, misalnya buku elektonik atau buku digital yang memungkinkan kita membaca buku secara online kapanpun dan di manapun.. Saat ini banyak masyarakat yang beralih dari buku yang berbentuk fisik ke buku digital. Hal ini dikarenakan buku digital lebih mudah, dan murah daripada buku teks.
Karena informasi yang ada di internet tidak hanya ada tentang buku digital, maka banyak orang-orang yang awalnya berniat membaca atau mendownload ebook justru berubah haluan ke facebook, twitter, dan jejaring sosial lainnya. Parahnya lagi sebagian dari mereka tertarik pada film dan gambar-gambar dewasa. Jadi meski buku digital lebih mudah dan murah tapi juga lebih mungkin untuk ditinggalkan. Lama-kelamaan buku benar-benar akan jauh dari kehidupan manusia. Ini membuktikan bahwa internet memberikan dampak negatif bagi budaya membaca.
Banyak masyarakat menganggap bahwa penulis haruslah seorang yang ahli dalam bidang yang ia tulis. Karena itu menunjukkan kredibilitasnya sebagai seorang penulis. Memang ada benarnya pemahaman seperti itu. Tapi jika pemahaman itu dipertahankan maka akan menjadi hambatan yang mereduksi minat menulis masyarakat terutama kaum muda.
Para penulis pemula yang belum punya nama akan berpikir seribu kali untuk menulis. Produktifitas dalam dunia tulis menulis akan berkurang. Kritik tajam yang dialami Edi Akhiles berdampak pada ciutnya nyali penulis muda untuk berkarya. Mereka takut kritik dan cacian dari orang-orang sehingga lebih memilih menguburkan pengetahuannya.
Penulis pemula sangat membutuhkan pengakuan dari orang-orang di sekitarnya. Jika mereka takut kritik dan cemoohan maka karya besar yang harusnya ada akan lenyap bersama lenyapnya keinginan menulis. Persepsi menulis harus ahli sudah menjadi momok menakutkan bagi Bangsa Indonesia. Beruntung Indonesia memiliki komunitas-komunitas menulis independen semisal Forum Lingkar Pena yang menjadi rumah berlindung bagi para penulis pemula. FLP menjaga agar ambisi menulis penulis pemula tetap menyala.
Problematika utama dalam mengembangkan budaya membaca dan menulis adalah kemajuan teknologi dan kesalahan persepsi. Jika masalah ini tidak segera diberi solusi, agaknya membaca dan menulis akan terus menjadi wacana tanpa bisa menjadi budaya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar