Senin, 19 Januari 2015

3 PILAR MAMPU MENULIS

sumber: http://ediakhiles.blogspot.com/2014/10/3-pilar-mampu-menulis-1-pilar-imajinasi.html


(1) PILAR IMAJINASI
 
“Bisa nulis, kan?” tanyaku.
“Iya. Saya rajin nulis status, twet, PM, juga catatan kuliah,” sahutnya.
Iya, semua kita bisa menulis; menulis yang sekadar menggabungkan kata-kata. Siapa pun yang melek huruf, pasti bisa nulis. Ya, nulis yang sekadar begitu tadi. Mengharap lebih jauh lagi, itu urusan lain lagi.
Soal “bisa menulis” itu sukses menjadi sebuah kalimat, apalagi paragraf, dan lebih-lebih menyambung antar paragraf secara padu menjadi sebuah karangan (fiksi dan non fiksi), jelas nggak banyak yang bisa. Bahkan, sorry to say, cukup banyak mereka yang memiliki buku sekalipun, ternyata masih kembang-kempis dalam membuat kalimat yang baik, menyusunnya dalam sebuah paragraf, dan menggabungkan banyak paragraf menjadi sebuah karangan.
Dari pengalaman dan pencermatan saya melalui Kampus Fiksi, saya sangat percaya bahwa untuk menjadi penulis yang baik (yang bisa merangkai kata menjadi sebuah kalimat yang baik, lalu menyusunnya menjadi sebuah paragraf yang baik, lalu menggabungkan banyak paragraf itu menjadi sebuah karangan yang baik), ada tiga pilar utama yang harus diperhatikan dengan sungguh-sungguh. Yakni, pilar imajinasi, sistematika berpikir, dan penyajian teknik.
Baiklah, kali ini saya akan bicara tentang pilar pertama, yakni imajinasi.
Kebanyakan awam memahami imajinasi semata dari kata bahasa Inggris, illusion, yang artinya adalah “angan-angan, ilusi”, bukan dari kata imagery, imaginary, dan imagine, yang menunjuk pada “proses deskripsi (figurasi) untuk menghasilkan gambaran obyek, ide, dalam pikiran.” Ah, sialnya, definisi macam begini pulalah (ilusi) yang difatwakan oleh Kamus Bebas Bahasa Indonesia (KBBI) kita.
Off course to yo, terdapat perbedaan mendasar antara kerja illusion dengan kerja imaginary. Yang pertama menunjuk pada “khayalan”, yang satu lagi menunjuk pada “berpikir reflektif” (kontemplasi). Yang khayalan cukup pakai isi kepala seadanya sehingga seringkali begitu dekat dengan igauan, yang kontemplasi menuntut penguasaan data, referensi, dan (pendek kata) pengetahuan. Yang khayalan; begitu merasa punya hal yang disebut ide, langsung tancap ketik. Tentu berdasar apa adanya isi kepala saat itu tentang ide itu. Yang kontemplasi, begitu merasa punya hal yang disebut ide, ia mencari tahu dulu, memikirkannya dalam-dalam, menguasainya dengan detail, sampai matang dan siap dilahirkan.
Tak perlulah saya ulas apa itu imajinasi menurut Derrida atau Sartre di sini. Perbandingan di atas saya kira sudah cukup terang untuk dipahami bahwa ada perbedaan besar antara orang yang sekadar berkhayal dengan orang yang berimajinasi: berkhayal tak perlu pengetahuan, berimajinasi perlu pengetahuan.
Cukup mudah untuk mendeteksi apakah sebuah karya (artikel, esai, cerpen, dan novel) ditulis dengan dasar imajinasi atau khayalan kok. Yang based on imajinasi pasti menghadirkan kedalaman dan kecerahan, sementara yang based on khayalan pasti menghadirkan kedangkalan dan kemuter-muteran belaka.
Coba perhatikan contoh ini:
===============
Dari kaca lebar bening yang menjadi dinding pembatas antara kafe ini dengan selat itu, kami bisa begitu leluasa menyaksikan kerlip-kerlip lampu dari daratan Eropa. Juga geliat lampu-lampu mobil dan bus pariwisata yang tengah melintas di atas jembatan Bosphorus yang tak seberapa panjang itu, yang menyatukan tanah Eropa dan Asia. Jika kau melintasi jembatan itu dari arah Istanbul ini, tepat pada aspal yang agak menurun di tengah jembatan itu, tolehkan kepalamu ke kanan, maka kau akan menemukan plang dengan tulisan “Welcome to Europe”. Sebaliknya, jika kau berangkat dari arah sana, di bagian kirimu akan terlihat sebuah plang bertuliskan “Welcome to Asia”.
Di arah tenggara dari kafe ini, kami bisa pula menatap lepas wajah Sulaiman Mosque yang menjulang dengan anggunnya. Dan, tentu saja, di bawah sana, di tepian dermaga yang menyimpan jejak-jejak tentara terbaik Al-Fatih saat menaklukkan Konstantinopel, di antara perahu dan kapal yang sandar untuk sejenak istirahat itu, kami bisa dengan mudah menemukan para sejoli yang tengah menikmati angin laut sambil berpelukan dengan hangatnya.
===============
Ada data. Ada pengetahuan. Ada pemikiran. Ada kontemplasi dalam penulisan contoh tersebut.
Lalu bandingkan dengan contoh ini:
===============
Lelaki yang menabrakku itu tersenyum begitu manis. Oh my God, senyumnya membuatku melting. Buku-buku yang berserakan di lantai seketika terlupakan. Dalam hati, aku berharap dialah lelaki yang dikirimkan Tuhan untuk menghentikan kesunyianku setiap malam Minggu, selama bertahun-tahun ini.
===============
Note: kedua contoh itu ditulis dengan teknik yang memadai.
Maka, kini, jelas sekali, bahwa pilar pertama penentu kualitas tulisanmu terletak pada kualitas imajinasimu, bukan khayalanmu. Dan kekuatan Imajinasimu selalu paralel dengan kekuatan pengetahuanmu.
Imajinasi ibarat ruh, jiwa. Jika ruhnya saja tidak jelas juntrungnya, lahir dari kepala yang malas membaca dan mengasup pengetahuan, enggan berpikir dan merenung, sangat mudah dibayangkan bakal seperti apa kondisi tulisannya kelak. Bahkan, sekalipun si penulis sudah piawai teknik, niscaya tulisannya akan tetap kosong bin dangkal. Apalagi, di tangan orang yang teknik menulisnya masih megap-megap.
Come on, insaflah sekarang juga, bahwa untuk mampu menghasilkan tulisan yang baik, langkah pertama yang harus dilakukan ialah ciptakan ide yang baik melalui proses imajinasi itu.

PILAR 2: SISTEMATIKA BERPIKIR (STATE OF MIND)


Dulu, lima tahun lalu, aku mengenalmu bukan karena kebetulan belaka, Aysila. Apalagi akibat sebuah kejadian tabrakan tak sengaja seperti kisah-kisah genit yang membosankan itu. Juga bukan bak dongeng Cinderella yang mujur tak ketulungan dicintai seorang pangeran berkendara Jazz RS White Metalic yang sulit dicerna akal sehat manusia.
Pilar kedua yang seharusnya selalu dikuasai oleh setiap penulis fiksi ialah sistematika berpikir (state of mind).
Menulis fiksi selayaknya orang bercerita secara lisan, hanya saja dituangkan dalam bentuk tulisan. Mendengarkan orang yang bercerita dengan sistematika yang berantakan, lompat sana-sini tak keruan, niscaya akan terasa begitu menyebalkan. Mondar-mandir membingungkan, kayak setrika yang layak diajuin sebuah pertanyaan sederhana, “Kamu mau cerita apa sih sebenarnya?”
Maka, pastikan untuk memiliki kemampuan berpikir sistematis, runtut, logis, dan argumentatif jika ingin menghasilkan cerita yang baik (misal, “ia berhasil mengintip ke balik jendala yang berkorden”, maka harus ada argumentasinya/alasannya/dasar logisnya mengapa ia bisa melakukan itu).
Berhentilah berpikir bahwa dunia fiksi adalah dunia karangan rekaan belaka, sehingga ia tak memerlukan argumentasi logis apa pun untuk setiap detailnya. Stop! Ia sepenuhnya menuntut kemampuan berpikir sistematis. Nggak boleh ditawar lagi. Fix price! Ini mal, Euy, bukan pasar Keppo.
Dan, ketahuilah sekarang juga, bahwa satu-satunya jalan untuk membuatmu mampu memiliki kemampuan berpikir sistematis itu ialah dengan membaca, merenung (bahasa kerennya berkontemplasi), diskusi, sharing, mencermati, mengamati, meneliti, dan menempuh semua proses yang menghantar kepada “penguasaan hal” yang akan ditulis. Ini adalah kerja ilmiah, Kawan. Menulis fiksi otomatis juga merupakan sebuah kegiatan berbasis pengetahuan ilmiah. Butuh kerja keras! Khayalan? Huh, apaan itu?!
Ian Barbour (seorang akademisi Filsafat Ilmu), misal, mengatakan bahwa “cara kerja ilmiah” untuk menjadikan “sesuatu” diterima secara luas ialah melalui “keterujian intersubyektif” di hadapan pertempuran subyektivitas dan obyektivitas. Rodo teoritik sitik, Bro. Silakan mengerutkan kening di bagian ini.
Semua penulis boleh saja menyebut Hagia Sophia itu indah dalam setting novelnya. Itu subyektif dia. Di sisi lain, secara obyektif, para penulis akan berbeda sama sekali dalam melukiskan keindahan Hagia Sophia. Subyektif dan obyektif tidak akan pernah bersua di sini.
Di tangan penulis yang “menguasai” Hagia Sophia secara ilmiah (berdasar data, video, film, atau kisah sahabat, apalagi berkunjung sendiri), yang subyektif di satu sisi (berkat persepsinya) dan obyektif di sisi lain (berkat kerja ilmiahnya) Hagia Sophia akan berhasil dituliskan dengan begitu detail, presisi, penuh feel, passion, dan hidup. Inilah contoh dari keterujian intersubyektif itu: yakni subyektivitas yang telah diramu secara logis dan argumentatif ilmiah dengan obyektivitas.
Dan, dan, dan, hanya orang yang rajin, tangguh, dan pintar sajalah yang akan sanggup mengusung “kerja ilmiah” keterujian intersubyektif ini. Mereka yang pemalas, pendengkur, enggan berkeringat, pastilah akan terhempas ke pojok-pojok remang chat yang penuh PHP…
Berhentilah menulis fiksi dengan gaya lama: asal sikat berbekal apa yang sudah ada di kepala saat ini. Hanya main-main dengan olahan kata dan plot.
Di kalangan penyair, metode menulis dengan “kerja ilmiah” ini lazim disebut “kekuatan intuisi”. Sebagian lain menyebutnya “menulislah dari hati”. Saya lebih sreg untuk menyebutnya menulis dengan “kedalaman batin dan pikiran”. Itulah state of mind: kemampuan berpikir sistematis untuk merangkai puzzle imajinasi yang telah diperoleh di pilar pertama.
*Utang saya tinggal Pilar Tiga, yakni Teknik. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar